
5 Dampak Mengerikan Kurang Minum Air bagi Tubuh, No 3 Paling Berbahaya!
Jakarta –
Kurangnya asupan air tak hanya membuat tenggorokan kering, tetapi juga bisa memicu lonjakan hormon stres dalam tubuh. Penelitian terbaru mengungkap, dehidrasi—bahkan dalam tingkat ringan—ternyata mampu memperburuk respons tubuh terhadap tekanan, meningkatkan risiko gangguan kesehatan jangka panjang.
Tim peneliti dari Liverpool John Moores University menguji 32 partisipan yang dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama dibatasi hanya minum 1,5 liter air per hari, sementara kelompok kedua mengikuti takaran konsumsi air yang disarankan.
Untuk memicu stres, peserta diminta menghadapi simulasi situasi menegangkan: wawancara kerja mendadak dan uji hitung matematika kompleks. Setelahnya, sampel air liur mereka diperiksa untuk mengukur kadar kortisol, hormon yang berkaitan dengan stres.
Temuan ini mengejutkan: kelompok dengan asupan air lebih sedikit menunjukkan peningkatan kortisol yang jauh lebih drastis. Artinya, dehidrasi—meski ringan—bisa memperkuat reaksi tubuh terhadap tekanan psikologis.
Tubuh tak selalu memberi sinyal haus
Profesor Neil Walsh, salah satu peneliti, menekankan bahwa meski kedua kelompok mengalami tingkat kecemasan dan detak jantung yang serupa, respons kortisol pada kelompok dehidrasi jauh lebih tinggi.
*”Kortisol adalah hormon stres utama. Jika reaksinya berlebihan, risiko penyakit seperti jantung, diabetes, hingga depresi bisa meningkat,”* jelasnya.
Yang menarik, partisipan yang kurang minum ternyata tidak merasa lebih haus dibandingkan kelompok yang cukup terhidrasi. Hal ini mengindikasikan bahwa tubuh tidak selalu memberikan sinyal haus yang jelas, bahkan saat sudah mengalami dehidrasi ringan.
Rekomendasi asupan cairan harian
Ahli kesehatan umumnya menganjurkan konsumsi 6-8 gelas cairan per hari (sekitar 1,5-2 liter). Namun, kebutuhan ini bisa meningkat tergantung kondisi, seperti cuaca panas, aktivitas fisik berat, masa pemulihan sakit, atau pada ibu hamil dan menyusui.