
Kasus Infeksi Bakteri Pemakan Daging Melonjak, Ilmuwan Beberkan Penyebab Mengejutkan di Baliknya
Jakarta –
Seorang nelayan asal New Orleans, Linard Lyons, nyaris kehilangan nyawa akibat infeksi bakteri pemakan daging setelah mengalami luka kecil di kakinya. Awalnya, ia hanya merasakan gejala seperti demam dan muntah, namun luka tersebut dengan cepat berubah menjadi hitam dan mengancam keselamatannya.
Dokter mendiagnosis Lyons menderita fasciitis nekrotikans, infeksi ganas yang disebabkan oleh bakteri Vibrio vulnificus. Bakteri ini hidup di perairan pantai yang hangat dan dapat masuk melalui luka terbuka. Menurut Cleveland Clinic, infeksi ini merusak jaringan tubuh dengan cepat. Data CDC menunjukkan kasus serupa di Pantai Timur AS melonjak 800% dalam tiga dekade terakhir.
Perjuangan Melawan Infeksi
“Saya ditanya apakah dokter boleh melakukan apa pun untuk menyelamatkan nyawa saya,” kisah Lyons, mengingat momen kritis sebelum operasi. Dokter semula memberi peluang hidup 50%, bahkan ancaman amputasi mengintai. Namun, berkat penanganan cepat, infeksi berhasil dihentikan tanpa harus memotong kakinya.
Proses pemulihan Lyons tak mudah. Ia menghabiskan tiga hari di ICU, tiga minggu di rumah sakit, dan terus menjalani terapi antibiotik. Meski bakteri telah hilang, bekas luka masih menyisakan penderitaan, terutama karena ia juga mengidap diabetes. Kini, ia berharap cangkok kulit dapat memulihkan kondisi kakinya.
Siapa yang Rentan Terinfeksi?
Dr. Daniel Edney, Kepala Dinas Kesehatan Mississippi, menjelaskan bahwa orang dengan daya tahan tubuh lemah—seperti penderita diabetes atau penyakit kronis—lebih berisiko mengalami infeksi parah. “Anggap saja perairan pantai terkontaminasi Vibrio. Hindari air jika ada luka terbuka,” pesannya.
Dampak Perubahan Iklim
Para ilmuwan mengaitkan penyebaran bakteri ini dengan pemanasan global. Suhu laut yang naik dan pencairan gletser menciptakan lingkungan ideal bagi Vibrio. Profesor Oliver dari UNC Charlotte menambahkan, berkurangnya kadar garam laut akibat air tawar dari gletser justru mendukung pertumbuhan bakteri.
Dr. Rachel Noble, peneliti Vibrio sejak 2000-an, menyebut fenomena ini sebagai tren global. “Ini contoh nyata bagaimana perubahan iklim memengaruhi kesehatan manusia,” ujarnya. Bakteri ini kini bertahan lebih lama, bahkan di musim dingin, membuat wabah di musim panas semakin parah.